Masyarakat Dayak Wehea

Masyarakat Dayak Wehea

Hutan Lindung Wehea adalah sebuah hutan yang “wajib” dikunjungi, seluas 38.000 hektar. Di sana anda akan terbangun dari tidur oleh suara Owa, alami indahnya pemandangan pegunungan dan anda dapat memeluk pohon raksasa dengan keliling lebar 3 meter. Dengan segala keliarannya, maka anda dapat merasakan pengalaman yang sebenarnya di hutan hujan. Di dalam hutan lindung ini anda akan menemukan keanekaragaman hayati yang begitu tinggi. Di sana anda akan mendapatkan pengalaman udara yang lembab dan sejuk, anda dapat berenang di sungai yang jernih dan menikmati keindahan air terjun. Beberapa satwa liar yang dapat ditemui antara lain: Orangutan, Owa, Macan Dahan, Kobra, Landak, Katak berwarna-warni, Beruang Madu, Rusa, Babi Hutan, Enggang, Elang, dll.

 

Lembaga Adat Dayak Wehea Nehas Liah Bing akan sangat gembira menyambut anda sebagai wisatawan di Hutan Lindung Wehea, dan Petkuq Mehuey akan selalu mendampingi anda di dalam hutan.

 

 

about us forest
Hutan Lindung Wehea

Wehea adalah salah satu sub suku “Dayak” (yaitu masyarakat asli Pulau Kalimantan). Terdapat sebanyak enam Desa Wehea dengan populasi sebanyak kurang lebih 2.000 orang, dan Desa Nehas Liah Bing adalah salah satu diantaranya. Mereka telah tinggal di daerah ini beberapa generasi selama ribuan tahun. Mereka ini berasal dari daratan Cina. Mereka sangat mengandalkan sumber daya alam. Mereka juga tinggal tidak jauh dari Hutan Lindung Wehea, dan mereka juga melindungi kekayaan alam hayati.

Masyarakat Dayak Wehea menjaga tradisi mereka dan Petkuq Mehuey adalah persatuan atau perkumpulan masyarakat dayak wehea. Mereka memiliki upacara-upacara tertentu setiap tahunnya, salah satunya adalah Lomplai untuk merayakan pesta panen padi, mereka berupaya melestarikan budaya nenek moyang. Masyarakat Wehea juga memiliki kebiasaan membuat kerajinan tangan.

Kepala Adat Wehea Nehas Liah Bing, Bapak Ledjie Taq dan beberapa pemimpin lokal yang lain telah membentuk Lembaga Adat beberapa tahun yang lalu untuk menjaga kelestarian tradisi dan budaya Wehea. Secara umum masyarakat Wehea belum mendapatkan pengakuan secara resmi, namun mereka cukup dihormati oleh pemerintah daerah. Secara umum Lembaga Adat berfokus untuk melindungi tradisi budaya, kemudian mereka melihat bahwa hutan adalah bagian dari Budaya Wehea yang dipandang mengalami ancaman eksploitasi yang tidak berkelanjutan, akhirnya mereka memutuskan untuk mendeklarasikan keberadaan Hutan Lindung Wehea.Pada tahun 1986 terdapat sebuah program transmigrasi dari pemerintah disekitar area ini.

 

Terdapat banyak pendatang dari pulau lain yang mulai menetap. Perubahan kemudian cepat terjadi, dan mulailah penggundulan hutan.Untuk memperkuat kegiatan perlindungan Hutan Lindung Wehea maka Lembaga Adat Wehea Nehas Liah Bing bekerja sama dengan pemerintah daerah dan NGO merekrut dan membiayai penjaga hutan untuk mengelola hutan lindung.

 

Lembaga Adat telah menyediakan home stay/ penginapan dalam program eko-wisata Hutan Lindung Wehea untuk memberikan kesempatan kepada para wisatawan untuk merasakan kekayaan alam Hutan Lindung Wehea yang mengesankan. Dengan mengunjungi Hutan Lindung Wehea berarti anda turut berpartisipasi dalam upaya perlindungan daerah ini. Sejauh ini kegiatan ekowisata telah memberikan efek yang positif terhadap sektor ekonomi untuk Lembaga Adat dan itu akan menjamin amannya perlindungan hutan. Silahkan datang dan berpetualang di Hutan Lindung Wehea.

 

about us